Thursday, August 17, 2017

Sugeng, penjual tape keliling yang tak mau menyerah dengan kekurangannya Sugeng, penjual tape keliling yang tak mau menyerah dengan kekurangannya

Semangat Terpuji,Tak Punya Kedua Lengan, Sugeng Berjualan Tape Keliling dengan Motor

Kategori | Peristiwa Editor :  Juni 16 2016
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)

MEDAN, POLITISIA.com - Cuaca Kota Medan sedang terik-teriknya. Siapa pun kalau tidak ada keperluan penting pasti enggan keluar rumah. Apalagi hari ini Ramadhan.

Tapi tidak dengan Sugeng (37), warga Ladang Bambu, Jalan Bunga Kardiol Nomor 60, Simpang Tuntungan, Kota Medan. Dengan suara khasnya, dia menjajakan tape ubi dan pulut hitam (ketan hitam) bungkus daun pisang keliling perumahan.

Siang itu, pria ramah ini sedang mengelilingi kompleks Kejaksaan Medan. Sugeng yang tak memiliki kedua tangannya ini berjuang hidup dengan menjual tape keliling.

Dia tak mau menyerah atau menyesali nasib sebagai orang dengan kebutuhan khusus. Dia bangkit. Sudah 12 tahun ia menjalani profesi sebagai penjual tape keliling.

"Daripada jadi pengemis yang menjual kecacatan dan mengharapkan belas kasihan orang, malu lah. Orang kita masih bisa kerja, kok. Dulu, aku masih naik sepeda, delapan tahun juga itu. Sekarang sudah bisa naik kereta (sepeda motor). Ini orang bengkel yang buatin gerobakku, stangnya dibuat khusus," kata Sugeng tertawa, Kamis (16/6/2016).

Harga tape yang dijualnya cukup murah, hanya Rp 1.000 per buah. Paling mahal tape ubi yang dibungkus plastik, Rp 2.000 per bungkus.

Tape buatan ibunya ini sangat manis, maka banyak yang menyukainya. Buktinya, kalau Sugeng, sudah datang ke kompleks itu, ibu-ibu pasti memborong habis dagangan laki-laki yang belum menikah ini.

"Manis tapenya, suka anak-anak. ditaruh di kulkas buat berbuka nanti pasti tambah enak. Sudah langganan aku, tapi baru hari ini aku tahu namanya Sugeng, biasanya panggil bang atau tape aja," kata Boru Nasution.

Mendengar cerita ibu tiga anak ini, Sugeng tersenyum memamerkan deretan gigi-gigi putihnya yang rapi berbaris.

"Kalau udah datang dia, langsung kuborong tapenya. Buat stok di kulkas, karena tak tiap hari dia datang ke kompleks ini. Udah itu, harganya pun murah, harga mahasiswa," sambung ibu Yani.

Menurut Sugeng, setiap hari dia membawa 300 bungkus tape ubi dan pulut. Kalau rezeki bagus, semua dagangannya ludes, tapi ada kalanya dia pulang dengan membawa tape-tape yang hanya laku beberapa bungkus. Bagi Sugeng dan ibunya, saat itu adalah hari yang sangat menyedihkan.

Para pembeli tape juga menyadari dan memaklumi keterbatasan fisik Sugeng. Dalam bertranskasi, para pembeli mengambil sendiri, menghitung sendiri, lalu uang pembayarannya mereka masukkan ke kantong kemeja Sugeng.

Kalau mesti ada uang kembalian, ya mereka mengambilnya dari saku Sugeng, menghitungnya sesuai yang diperlukan, lalu memasukkannya kembali ke kantong.

Sugeng hanya memperhatikan saja. Ditanya apakah dengan model begitu pernah dapat pembeli yang nakal, dia menggeleng.

"Sampai saat ini langgananku baik-baik, jujur-jujur semua. Kalok pun mereka tak jujur, aku bisa apa? Mukul tak bisa aku. Tinggal orangnya lah," ucapnya.

Pria yang kerap mengenakan topi ala koboi itu mengatakan, kendati sedang puasa, namun dia tetap semangat berjualan.

Dia tak pernah batal puasa dan mengurangi jam kerjanya kendati capek dan haus saat berjualan di bawah terik matahari. Biasanya, menjelang berbuka, dia baru sampai di rumah.

Ditanya apa harapannya Lebaran kali ini, Sugeng terdiam. Rautnya terlihat sedih.

"Ya, mudah-mudahan habis Lebaran ini jodohku datang. Apalagi lah hidup ini, kita kan ingin ada keturunan, punya keluarga. Ada teman hidup kita di hari tua nanti," kata Sugeng pelan.

Para ibu-ibu sudah selesai berbelanja. Sugeng pun akan melanjutkan perjalanannya. Masih ada sekitar 100 bungkus tape di gerobak roda tiga miliknya.

Dengan sigap, Sugeng naik ke tempat duduk. Satu kakinya yang memang sengaja tak bersendal naik ke atas stang. Jempolnya menekan tombol starter, motor matik siap melaju.

Untuk mengemudikan motor, Sugeng memasang lengan buatan dari kayu dan besi untuk diikatkan ke stang. 

 

 

 

 

 

Sumber : Kompas

dibaca 2240 kali

Video | Eksotika Alam Nusantara