Thursday, August 17, 2017

 

 

Puisi 8

Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Dibekukan oleh permainan waktu yang menyiksa kamu juga merupakan salah satu kebohongan dengan alasan ini Aku berhak memulai dari awal Sepenggal keangkuhan memporanda bahtera penyesalan ku Itu benar….Penyalamat kita terlambat Kata demi kata terangkai bersama menyentuh satu kesatuan dengan banyak makna kelabu yang menggema di depan mata ku kelabu yang…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Gelapnya angkasa menghentikan langkah melenyapkan cahaya menjadikannya sirna termenung dalam kesendirian ditengah keramaian menatap gelapnya awan tanpa adanya kawan berharap dalam lamunan akan hadirnya cahaya dengan sejuta keindahan yang membawa damai dalam jiwa tertuang dalam pikiran akan hadirmu kawan yang kan menemani langkah menggapai cahaya Harapan dalam renungan – oleh…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Aku adalah kertas Putih dan bersih Engkau torehkan tinta Dengan tulisan dan gambar Terkadang tertoreh tulisan dan gambar indah Tapi ada juga tulisan dan gambar menusuk hati Semua tulisan dan gambar saling berpadu Menjadi aku, kertas penuh dengan tinta Dihapus tak bisa Dibakar, aku pun ikut menghilang Dibuang, aku pun…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Sekarang, lafadz cinta, Berceceran di mana saja, Di setiap dinding yang dilalui hujan, Di setiap detik yang dilalui waktu, Seperti tumpukan sampah di sudut kota, Disebut oleh para pendengar sebagai gombalan. Lafadz cinta seolah tak bertahta, Kehormatannya dibunuh oleh dusta-dusta, Lafadz cinta kini menjadi pengemis, Merindukan pengakuan tentang betapa berharganya…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Aku mengerti sekarang. Kamulah badai keras dalam langit malamku. Ketika kamu pertama datang, Kamulah petir. Suatu kilat mendadak, Memberi cahaya dalam gulitaku (Aku terpikat). Sedetik kemudian, Kamu berubah menjadi guntur. Benar-benar menggemparkan, Membawaku kekacauan. (Aku lumpuh). Sekarang kamu tiada dan aku tertinggal sendiri dengan Langitku begitu gelap dan sunyi Aku…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Seharusnya kita Adalah refleksi para pejuang Mereka telah membentuk gema kebebasan Aksara pusaka bernama ‘merdeka’ Seharusnya kita Tidak lelap di ninabobokan senja Negeri ini untuk mereka Bukan hanya untuk pendurhaka Pada malam lalu ada cengkerama suci Tentang dengan cara apa bergerilya Agar tak ada lagi generasi terjajah Sakit, tak terurus,…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
ayah kau adalah sosok lelaki perkasa kau tak pernah letih bekerja dan tak pernah putus asa ia tak pernah meperlihatkan duka di wajah nya bertaruhkan jiwa dan raga memikul beban yang amat berat hanya semata untuk keluarga kini kau telah tiada ke ikhlasanku tak mampu melepasmu semua kenangan masih terasa…
Kategori | Puisi Editor : November 29 2015
Nilai rating artikel ini menurut anda
(1 Vote)
Dimanakah diriku…. Yang dulu selalu menyenandungkan lagu rindu, yang dulu sering menangis sendirian disudut kamarku Dimanakah diriku… Yang dulu begitu lemah dan rapuh Yang dulu sering kali menyirami sajadah dengan air mata penuh duka, dimalam-malam buta. Dimanakah diriku Yang dahulu selalu membelai rambut anakku dengan penuh kasih sayang dan rasa…

Video | Eksotika Alam Nusantara